Memberi lebih 'mulia' daripada meminta.

Ada apa dengan saya? Haruskah saya gelisah?

Ada apa ini? Kenapa saya? 
Hujan turun membasahi jalanan aspal gang kramat kwitang 1f. Disebuah ruangan kotak berukuran 3x4 saya berteduh, berteduh disebuah kamar yang sudah saya tinggali sejak 5bulan yang lalu. Ada yang aneh malam ini, beberapa kali saya mencoba memejamkan mata, beberapa kali juga saya gagal terpejam. Perasaan gelisah yang kian detik kian merasuk ke dalam jiwa yang ada di dalam tubuh seorang mahasiswa yang sedang dalam masa penantiannya. Sebuah penantian panjang, sebuah janji yang harus segera di gapai. Penantian itu penantian dari semua orang-orang yang mengasihinya. Sebuah penantian yang harus cepat diselesaikan dan dilaksanakan dengan sebaik dan semaksimal mungkin. Penantian itu adalah penantian ketika harus menghadapi sidang tugas akhir di sebuah kampus perfilman yang ada di Jakarta. Kampus perfilman yang tertua di Indonesia yang konon menjadi barometer perfilman nasional. Inilah saya si mahasiswa tingkat akhir, menunggu puncak persidangan tugas akhir. 

Janji yang aku sepakati dengan almarhum Bapak, janji dimana aku harus cepat lulus dan cepat bekerja. 

Di dalam kamar ini, suara rintik hujan semakin terdengar keras menimpa genteng-genteng ruangan yang terbuat dari asbes. Saya berharap suara rintik hujan itu adalah jawaban dari segala kegelisahan. Jawaban dari segala pertanyaan. Dan jawaban dari rindu seorang anak kepada Bapaknya yang telah tiada. Saya berharap ini bisa menjadi penggerak semangat saya untuk menghadapi sidang tugas akhir esok hari. Sidang yang mana saya akan di uji oleh lima orang penyidang. 
 

Saya akan berjuang dan terus berusaha dalam mempertahankan argumen saya. Seperti yang teman saya bilang:

Ya kita harus perjuangkan konsep yang sudah kita rancang!!! Semangat!!!

1 komentar:

Copyright © wawansirait. All rights reserved. Template by CB. Theme Framework: Responsive Design